Sabtu, 23 Maret 2013

Terjemah Qawaid Asasiyah Sayid Muhammad Al Makki


بسم الله الرحمن الرحيم
Muqoddimah
Segala puji hanya bagi Alloh yang telah menciptakan alam tanpa panduan, Dia mengutus pemimpin para Rasul yang awal hingga akhir untuk seluruh manusia, kemudian beliau menjelaskan Al quran dan Al sunnah seraya memperbolehkan ijtihad dan qiyas karena menyayangi umat yang tidak akan bersatu melawan kebenaran namun tidak sebaliknya. Semoga Alloh merahmati dan menyelamatkan beliau sepanjang malam dan siang serta bilangan nafas yaitu sholawat yang tiada keraguan maupun kerancuan dan semoga tercurah pula bagi keluarga beliau maupun shohabatnya serta istri – istri beliau yang selalu mensucikan diri dari segala jenis keburukan, semoga Alloh menyelamatkan mereka tanpa batas. [1]
Setelah itu, ilmu ushul fiqh besar manfaat dan kadarnya, tinggi kemuliaan dan kualitasnya karena ia menjadi acuan hukum syariat dan patokan fatwa hukum fiqih, ia lah pokok saat ijtihad karena ushul fiqh berkaitan erat dengan ijtihad, bagaimana tidak ? karena bagi mujtahid harus mengetahui Al quran dan Al sunnah yang berkaitan dengan hukum syariat, tahu masalah yang di ijma’i, ayat yang nasikh dan mansukh serta keadaan Rowi. Oleh karena itu bodoh pada satu saja dari hal – hal ini akan menjatuhkan mujtahid kedalam kesalahan, mujtahid juga harus mengetahui syarat – syarat qiyas karena ijtihad erat kaitannya dengan qiyas.
Sungguh Imam Syafii alaihi rahmatulloh adalah manusia pertama yang menyusun ilmu ushul fiqh tanpa ada perbedaan qaul diantara ulama, beliau menulis kitab Al risalah yang kemudian dikirim pada Ibnu Mahdiy saat berada di Khurosan sedangkan Imam Syafii berada di Mesir, kitab tersebut dikirim atas permintaan Ibnu Mahdiy sendiri. Setelah peristiwa bersejarah itu maka bermunculan karya – karya tentang ushul fiqh dan banyak Ulama yang mengabdikan diri membuat karya ushul fiqh dalam berbagai madzhab terlebih madzhab yang empat, dari kalangan ulama madzhab Hanafi yang banyak menyusun kitab ushul fiqh diantaranya Imam Al Bazdawi, Al Sarkhosi dan selain keduanya, dari kalangan madzhab Syafii adalah Imam Al Haromain, Al Ghazali dan Al Syairozi, dari kalangan Madzhab Maliki adalah dua Qadli ternama yaitu Qadli Abu Bakr Al Baqilaani dan Abdulwahhab Al Bagdadi, Imam Al Marizi dan Ibnu Hajib, dari kalangan madzhab Hanbali adalah Al Qadli Abu Ya’laa beliau menyusun kitab “Al iddah fii ushuli al Fiqh” tetapi belakangan diketahui kitab tersebut tidak diketemukan naskahnya, namun demikian kitab tersebut menjadi karya pertama kitab ushul fiqh madzhab Hanbali, misal lagi adalah Ibnu Qudamah dan selain keduanya. Ini hanyalah daftar Ulama yang berkarya dalam bidang ilmu ushul fiqh tanpa memperhatikan urutan tahun kelahiran dan kewafatan mereka begitu juga seterusnya hingga sampai pada masa dua Subki yaitu Taqiyuddin Al Subki dan puteranya Tajuddin Al Subki, kemudian Tajuddin Al Subki menyusun kitab “jam’ul jawami” yang di dalam muqoddimah kitab itu disebutkan bahwa beliau menyusun kitab itu setelah mengumpulkan lebih dari 100 kitab ushul fiqh. Kitab jam’ul jawami’ ini kemudian mendapat apresiasi dari Ulama sepeninggal beliau maka syarah – syarah, hasiyah – hasiyah, ta’liq – ta’liq  dari kitab itupun banyak sekali terlebih syarah Imam Al Mahalli pada kitab itu. Perhatian ulama pada kitab jamu’l jawami’ semakin kentara ketika banyak syarah – syarah yang berfaidah dan ta’liq – ta’liq yang manfaat dengan berbagai model, sebagian Ulama membahas secara detail dan mengkritisi kitab itu, sebagian ulama ada yang menyempurnakan kekurangan dalam kitab itu dan sebagian lagi membuat nadzom, dalam hal ini Imam Al Suyuti menadzomkan kitab itu dengan bahar rojaz dan beliau menamainya “al kaukab al Sathi”.
Tidak sampai itu saja perhatian Ulama terhadap kitab jam’ul jawami berikut syarah – syarahnya bahkan perhatian tersebut berlanjut hingga periode awal abad ke 13 H yaitu ketika Alloh Ta’ala menganugerahi ilmu pada seorang Ulama pada masa itu, seorang yang paling Unggul di masanya beliau adalah Abdulloh putera Alhaj Ibrohim Al ‘alawiy lalu beliau menadzomkan kitab jam’ul jawami’ seluruhnya kecuali bab makna – makna huruf karena beliau bersikukuh untuk mengesampingkan pembahasan selain ushul fiqh, maka dalam muqoddimah kitabnya beliau berkata :
مُنْتَبِدًا عَنْ مَقْصَدِى مَا ذُكِرَا ** لَدَى الْفُنُوْنِ غَيْرُهُ مُحَرِّرَا
Artinya : selain ushul fiqh akan lepas dan merdeka dari tujuanku yang telah disebutkan dalam bidang ilmunya masing – masing.
Adapun dhomir pada lafadz “ghoiruhu” berisi ushul fiqh, walaupun demikian nadzom jam’ul jawami’  itu beliau tambahkan keterangan – keterangan dari hasyihah – hasiyah Al Mahalli seperti kitab “ al ayat al bayyinat” karya Imam Al Ibaadi atau kitab “al tanqih dan syarahnya” karya Alqiroofi dan kitab – kitab lainnya, kemudian kitab nadzom itu beliau beri nama “ maroqi al su’ud li mubtaghi al riqoo wa al shu’ud”[2].
            Setelah semua itu maka inilah usaha seorang yang  banyak kekurangannya dan apresiasi dari seorang yang lemah sembari mengharap anugerah Tuhannya dan barokah RasulNya semoga Alloh merahmati dan menyelamatkan beliau dan juga kepada keluarga serta shohabatnya serta para imam yang menunjukkan orang – orang yang butuh petunjuk.
            Saya ingin untuk mendekatkan ilmu ini dan membeber kaidah – kaidahnya pada para pemula yang berhati mulia lagi bertekad lurus dan sesungguhnya  saya juga telah mensyarahi nadzom kitab “al waroqot” secara ringkas untuk pemula tetapi saya fokuskan pada teks nadzom, uraian bait – bait dan keterangan perkata, maka biarlah usaha yang itu khusus untuk nadzom “al waroqot”.  Adapun kaidah – kaidah ini biarlah menjadi penjelasan berlanjut dari nadzom “al waroqot” itu, kitab ini lebih banyak keterangan dan lebih mudah daripada syarah nadzom”al waroqot” itu, kedua karyaku itu semoga diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, semoga amalku ini menjadi amal orang yang ikhlas serta mengkihklaskan semata – mata untuk Alloh Yang Maha Mulia, semoga Alloh memberi manfaat pada orang yang membacanya dan mengampuniku akan apa yang keliru dalam kitab ini. (hanya ampunanMu yang kami harapkan wahai Tuhan kami dan Engkaulah tempat kembali).
            Saya telah membaca kitab ini di hadapan beberapa Ahli ilmu, diantara mereka adalah : Tuanku Al Waalid Al Habib Alwi bin Abbas Al Maliki Al Hasani, Tuanku Syaikh Muhammad Yahya Aman, Tuanku Syaikh Hasan bin Muhammad Al Massyaat, Tuanku Syaikh Abdulloh bin Sa’id Al Lahjiy, beliau – beliau ini adalah Ulama Mekah Al Mukarromah kemudian Tuanku Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf seorang Mufti Mesir, aku membaca kitab ini ketika beliau berkunjung di Musim Haji, kepada merekalah aku mendalami ilmu Ushul Fiqh semoga Alloh merahmati mereka dengan rahmat yang luas.
Sanad kitab “jam’ul jawami” ku
Sanad kitab jam’ul jawami’ku banyak tetapi akan saya sebutkan secara ringkas sanad kitab itu dari jalur Ayahku semoga Alloh merahmati beliau, sanad itu adalah :
Dari Ayahku Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki Al Hasani, beliau dari Ayahnya yaitu Sayyid Abbas bin Abdul Aziz Al Maliki Al Hasani, beliau dari Gurunya yaitu Syaikh Abu Bakr Syathoo dan Syaikh Muhammad Abid Al Maliki seorang Mufti Madzhab Maliki, beliau berdua dari Al Imam Syaikhul Islam Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, beliau dari Syaikh Utsman bin Hasan Al Dimyathi, beliau dari Syaikh Muhammad Al Syinwani, beliau dari Isa bin Ahmad Al Barowi, beliau dari Muhammad Al Dufriy, beliau dari Salim bin Abdulloh Al Bashriy, beliau dari Ayahnya yaitu Abdulloh bin Salim Al Bashriy, beliau dari Muhammad bin Al Alaa’i Al Baabiliy, beliau dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Al Ghanimiy, beliau dari Al Syamsu Muhammad bin Ahmad Al Ramli, beliau dari Syaikul Islam Zakariya Al Anshori, beliau dari Al Izz Abdurrohim bin Al Furot, beliau dari penyusun kitab Jam’ul jawami’ yaitu Abu Nashr Abdul Wahhab bin Ali bin Abdul Kaafi Al Subki. Adapun kitab – kitab karya Ayah Tajuddin Al Subki diriwayatkan dengan sanad ini.


Sanad kitab “al waroqot” ku
Dari sanad yang telah saya sebutkan sampai pada Syaikh Zakariyya Al Anshori berlanjut ke :
Syaikh Zakariyya Al Anshori dari Abu Al Fath Muhammad bin Abu Bakr Al Maroghi, beliau dari Abu Al Farj Abdurrohman bin Ahmad Al Ghaziy, beliau dari Abdu Al Daaim Al Maqdisi, beliau dari  Muhammad bin Ali Al Harroniy, beliau dari Abu Abdillah Muhammad bin Al Fadhl Al furowiy, beliau dari penyusun kitab “al waroqot’ yaitu Imam Al Haromain Abu Al Ma’aali Abdul Malik bin Abu Muhammad Abdullah Al Juwaini, semoga Alloh merahmati dan menyelamatkan tuan kita yaitu Muhammad serta keluarga dan Shohabatnya.